BAB 1
P E N D A H U L U A N
A. Latar belakang
Jika makna malu adalah mencegah dari melakukan sesuatu yang tercela, maka seruan untuk memiliki malu pada dasarnya adalah seruan untuk mencegah segala maksiat dan kejahatan. Di samping itu rasa malu adalah ciri khas dari kebaikan, yang senantiasa diinginkan oleh setiap manusia. Mereka melihat bahwa tidak memiliki rasa malu adalah kekurangan dan suatu aib.
Pada dasarnya, islam dalam keseluruhan hukum dan ajarannya, adalah ajakan yang bertumpu pada kebaikan dan kebenaran. Juga merupakan seruan untuk meninggalkan setiap hal yang tercela dan memalukan.
Manusia sekarang sudah jarang yang memiliki rasa malu contohnya dalam kehidupan sehari- hari kita kita sering menyaksikan manusia yang sudah tidak lagi memiliki rasa malu bila melanggar hati nurani dan aturan hidup. Cobalah anda lihat dan baca melalui media masa. Tidak sedikit manusia yang dengan bebasnya melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap hati nurani dan norma masyarakat yang berlaku. Dari mulai mereka berpakaian, bersikap dan bertingkah laku.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, akan timbul beberapa pertanyaan di antaranya:
1. Apa pengertian dan maksud malu?
2. Apa macam-macam malu?
3. Bagaimana menumbuhkan rasa malu?
4. Apa keutamaan dari sifat malu?
BAB II
P E M B A H A S A N
A. Pengertian dan Maksud Malu
Malu dalam bahasa Arab disebut kata al-haya’ ( الحاء) Malu menahan diri dari melakukan sesuatu dengan alasan takut akan celaan dari orang lain. Malu disebutkan oleh Nabi Saw sebagai cabang dari iman karena dengan sifat malu seseorang dapat tergerak melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Sifat malu akan selalu mengantarkan seseorang pada kebaikan.
Sifat malu akan selalu mengantarkan seseorang pada kebaikan. Jika ada seseorang yang tidak berani melakukan kebaikan, maka sebabnya bukanlah sifat malu yang dimilikinya, tetapi itu disebabkan sifat penakut dan kelemahan yang dimiliki seseorang tersebut. Demikian Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim.
Dalam hadis Nabi Muhammad Saw:
Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar: suatu saat Nabi saw bertemu seorang laki-laki yang mencela saudaranya yang pemalu. Bahkan lelaki tersebut mengatakan rasa malu telah membahayakanmu. Maka Rasulullah bersabda: berhentilah kamu mencela saudaramu, karena malu adalah bagian dari iman.(H.R. Al-Bukhāri)
Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad Saw. menegur seorang laki-laki yang sedang mencela sifat malu yang dimiliki saudaranya. Sifat malu dalam hadis tersebut adalah bagian dari cabang iman. Mengapa? Karena sifat malu dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan maksiat dan hal-hal yang dilarang agama (Badruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad al-‘Aini dalam Kitab ‘Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari juz 1).
B. Macam-macam Malu
Dalam ajaran agama disebutkan “malu adalah sebagian dari iman“. ini berarti bahwa malu merupakan salah satu nilai budi pekerti yang harus di miliki oleh manusia. Dan juga Rasulullah SAW bersabda, “Memiliki rasa malu itu merupakan manifestasi dari iman” (HR. Bukhari).
Pada hakikatnya rasa malu adalah suatu akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan kurang memperhatikan haknya orang yang memiliki hak. Dalam kajian aqidah akhlak sifat malu terbagi menjadi tiga:
1. Malu Terhadap Diri Sendiri
Orang yang mempunyai malu terhadap dirinya sendiri, saat melihat dirinya sangat sedikit sekali amal ibadah dan ketaatannya kepada Allah SWT serta kebaikannya kepada masyarakat di lingkungannya, maka rasa malunya akan mendorongnya untuk meningkatkan amal ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Orang yang mempunyai rasa malu terhadap dirinya sendiri, saat melihat orang lain lebih berprestasi darinya, dia akan malu, dan dia akan mendorong dirinya untuk menjadi orang yang berprestasi.
2. Malu Terhadap Sesama Manusia
Orang yang merasa malu terhadap manusia akan malu berbuat kejahatan dan maksiat. Dia tidak akan menganiaya dan mengambil hak orang lain. Walaupun malu yang seperti ini bukan didasari karena Allah SWT melainkan karena dorongan rasa malu terhadap orang lain, tapi insya Allah orang tersebut mendapat ganjaran dari Allah SWT dari sisi yang lain. Tapi perlu dicatat, orang yang merasa malu karena dorongan adanya orang lain yang memperhatikan, sementara ketika sendiri dia tidak malu, maka sama artinya orang itu merendahkan dan tidak menghargai dirinya.
Rasa malu dengan sesama akan mencegah seseorang dari melakukan perbuatan yang buruk dan akhlak yang hina. Orang yang memiliki rasa malu dengan sesama tentu akan menjauhi segala sifat yang tercela dan berbagai tindak tanduk yang buruk. Karenanya orang tersebut tidak akan suka mencela, mengadu domba, menggunjing, berkata-kata jorok dan tidak akan terang-terangan melakukan tindakan maksiat dan keburukan.
3. Malu kepada Allah
Rasa malu kepada Allah adalah termasuk tanda iman yang tertinggi bahkan merupakan derajat ihsan yang paling puncak. Nabi bersabda, “Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan memandang Allah. Jika tidak bisa seakan memandang-Nya maka dengan meyakini bahwa Allah melihatnya.”(HR Bukhari).
Malu seperti ini akan menimbulkan kesan yang baik. Orang yang memiliki rasa malu terhadap Allah SWT akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya, karena ia yakin bahwa Allah SWT senantiasa melihatnya.
Bila kita kembali kepada hadis Rasulullah di atas yang mengatakan rasa malu adalah manifestasi dari iman, maka hanya orang-orang yang imannya menancap kuat dan tumbuh yang memiliki tingkat sensitivitas rasa malu yang sangat tinggi.
Rasa malu kepada Allah adalah di antara bentuk penghambaan dan rasa takut kepada Allah. Rasa malu ini merupakan buah dari mengenal betul Allah, keagungan Allah. Serta menyadari bahwa Allah itu dekat dengan hamba-hambaNya, mengawasi perilaku mereka dan sangat paham dengan adanya mata-mata yang khianat serta isi hati nurani.
C. Menumbuhkan Rasa Malu
Menumbuhkan rasa malu dalam kehidupan itu ada banyak cara di antaranya yaitu dengan mulai dari yang kecil dari diri kita sendiri yaitu dengan membiasakan berkata jujur dan berperilaku yang benar, pada saat kita bertingkah laku sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan maka jika kita memang dari awalnya sudah biasa melakukan kebaikan maka sikap dan perilaku kita akan baik tetapi jika kita terbiasa berbuat salah maka perilaku kita juga akan selalu salah.
Karena dalam kehidupan manusia yang selalu berbuat salah jika mereka berbuat benar malah mereka merasa malu karena mereka sudah terbiasa berbuat salah dan jika manusia itu terbiasa berbuat benar maka jika mereka salah mereka juga akan malu berbuat salah karena mereka terbiasa berbuat benar maka dari itu mulai dari sekarang kita harus membiasakan berkata dan berperilaku yang benar karena itu adalah awal supaya kita sebagai makhluk yang berbudaya dapat menumbuhkan lagi rasa malu dalam diri kita.
Dan cara lainnya menumbuhkan rasa malu yaitu dengan mempertegas hukuman bagi pelanggar kejahatan karena tanpa adanya tindakan yang tegas bagi mereka yang melanggar maka rasa malu pada masyarakat akan semakin kecil bahkan semakin tidak ada,sebaliknya jika hukuman bagi pelanggar hukum di pertegas maka maka rasa malu pun akan tumbuh dan cara lainnya yaitu dengan mempertebal penanaman moralitas agama karena moralitas agama adalah jalur cukup kuat dalam menanamkan rasa malu seseorang.
D. Keutamaan Malu
Beberapa keutamaan malu berikut ini, yaitu:
1. Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.
2. Malu adalah cabang keimanan.
3. Allah Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang malu.
4. Malu adalah alah islam dan akhlak para Malaikat
5. Malu senantiasa seiring dengan iman, bila salah satunya tercabut hilanglah yang lainnya.
6. Malu akan mengantarkan seseorang ke Surga.
7. Tidak perlu malu saat mengajarkan masalah-masalah agama dan saat mencari kebenaran. Di dalam Al-Qur’an surat Al-Azhab: 53, Allah berfirman, “Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.”
8. Rasa malu akan membuahkan iffah (kesucian diri). Maka barang siapa yang memiliki rasa malu, hingga dapat mengendalikan diri dari perbuatan buruk, berarti ia telah menjaga kesucian dirinya.
BAB III
P E N U T U P
A. Kesimpulan
1. Kata malu adalah leburan dari kata ﺤﻴﺎۃ ( hidup). Malu dibangun di atas dasar hidupnya hati, hati semakin hidup maka rasa malu akan semakin bertambah, bila keimanan mati di dalam hati maka rasa malu akan hilang, barang siapa yang telah hilang rasa malunya maka dia adalah orang mati di dunia dan kecelakaan di akhirat.
2. Pada hakikatnya rasa malu adalah suatu akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan kurang memperhatikan haknya orang yang memiliki hak. Dalam kajian aqidah akhlak sifat malu terbagi menjadi tiga : Malu kepada diri sendiri, malu kepada sesama manusia, malu kepada Allah.
3. Menumbuhkan rasa malu dalam kehidupan itu ada banyak cara di antaranya yaitu dengan mulai dari yang kecil dari diri kita sendiri yaitu dengan membiasakan berkata jujur dan berperilaku yang benar.
4. Sifat malu mempunyai beberapa keutamaan, di antaranya : malu dapat mengantarkan seseorang masuk surga, mencegah seseorang berbuat maksiat, malu adalah akhlak malaikat dan malu adalah cabang dari iman.

Post a Comment for "Contoh Makalah Tentang "Menguatkan Iman Dengan Malu""